Pelajaran dari Kepiting
October 10, 2008 by windyahertanti
Suka makan kepiting ?bergabunglah dengan saya pencinta makan kepiting :D.kalo udah makan kepiting, biar mo dikata hujan badai, ada cowok guanteng se guanteng2nya juga bakal lewat. emang gue pikirin ;p
Saya suka makan kepiting. biar orang bilang makannya susah, bagi saya justru disitu letak seninya. Perjuangan dengan ndowernya bibir saya plus jari jemari yang terluka bagi saya cukup setimpal demi mendapatkan daging kepiting yang enak. Kalo Cuma makan sup kepiting campur asparagus, hueeek..saya malah ga doyan. Makan kepiting itu yang asyik kalo ampe 2 tangan turun ke piring semua, ga lupa pake uji kekuatan gigi dan plus ampe ingus ngeces gara2 kepedesan bumbu saos padang yang super duper pedes, for me, that’s the art…
Saat sahabat saya ada yang bilang mending makan cumi or udang aja, saya langsung underestimate kepadanya. Tuduhan saya “ you are not struggle enough in your life“. Kog bisa saya nuduh gitu ? hemm, asumsi ini saya tarik dari keputusannya ga doyan makan kepiting. Terlepas dari sahabat saya ini punya alergi apa engga, saya menggangap bahwa makan kepiting itu only an example from one of battle in our life. Kalo suka makan kepiting, paling engga seseorang itu mau berjuang abis2an buat mendapatkan sesuatu… jujur mo dikata, aslinya rasa daging kepiting itu biasa2 aja, tapi dengan perjuangan untuk mendapatkannya, rasa daging kepiting itu menurutsaya jauh..jauh lebih enak melebihi cumi or udang yang bisa langsung dicomot. bagi saya itulah nilai sebuah perjuangan….
Saya tau di dunia ini banyak sekali type orang. Ada yang mau berjuang mati2an ada juga yang type pasrah. Saya menganggap bahwa dalam hidup itu semuanya harus di perjuangkan. Garisan takdir itu ada, saya bukannya menghilangkan kuasa Alloh disini, tapi saya percaya, Alloh ga akan mengubah nasib sebuah kaum jika kaum itu tak mau berusaha. So, bagi saya berjuang itu hukumnya wajib hingga titik darah penghabisan untuk mendapatkan sesuatu….
Namun lambat laun saat bertemu dengan kebanyakan orang, saya terjebak dalam sebuah situasi dimana kebanyakan orang berpasrah diri. Entah yang complain ama kerjaan tapi yaaa ga pindah2 kerja. Ada yang ga cocok ma soulmate-nya tapi ga mo pisah, ada yang fall in lop ma seseorang tapi ga mo ngaku…aduh..contoh kasus itu banyak. Rata2 banyak yang berkata, let it be. Let it flow.
Mungkin gambaran berpasrah terlalu extrim, tapi dijaman yang serba instan ini, semua orang memilih untuk mencari yanginstan pula. Cari cara yang paling gampang, ga mo mikir yang penting ada. sometimes even not think enough terhadap apa yang dipilihnya. Minggu kemarin, heem…tepatnya kurang lebih 1 bulan ini, saya ga bisa memahami pikiran dari sahabat saya saat dia mengambil keputusan yang bagi saya too extrim. Dilihat dari kanan kiri depan belakang , saya tetap saja ga bisa paham akan keputusannya.
Waktu kurang lebih 1 bulan ini, habis saya gunakan untuk meng-counter back-nya. Beragumentasi terhadap apa yang dipilihnya. Hasilnya, hubungan kami kacau balau. Tiap orang memiliki alam pikir masing2 yang terkadang tak bisa dimasuki oleh siapapun, even soulmate sekalipun. Maka, saat saya sadar bahwa sahabat saya bukan lah saya. Saya tau tidak semua orang mau untuk bersusah2 makan kepiting atau mau berpikir seribu kali sebelum mengambil keputusan yang paling tepat. Terkadang mencari sesuatu yang paling gampang atau melakukan berdasarkan insting yang spontan adalah yang keputusan yang tebaik….it’s all depend to the people. The best way for someone it’s not always the best way for other person. ..
Well, saya bukan lulusan psikologi, semua asumsi saya murni dari alam pikir sendiri. Jadi kalo mo dicari di buku di gramed or diktat kuliah saya jamin kagak bakal ada, hehehe.…
Sebenernya makan kepiting trus dikatakan “struggle enough in your life” nurutku emang bener, entah ini kata “dd” sebuah kiasan, kayaknya memang cocok, ibarat kepiting itu sebuah rintangan, bukan hasil yang didapat atau enak-tidaknya rasa kepiting itu sendiri tapi bagaimana cara kita mengupas, memakannya supaya tangan kita ngga terluka. Aku percaya aja “dd” bukan lulusan psikologi yang berkutat masalah kejiwaan namun pengalaman hidup yang membuat kita semakin dewasa dalam menyikapi sebuah persoalan, bagaimana cara kita memecahkan sebuah persoalan, apakah kita menghindarinya atau menghadapinya dengan kepala dingin hingga dapat merasakan “kepiting” itu yang kata orang ngga enak dan bikin susah tetapi menjadikan “kepiting” itu sebuah hidangan yang lezat, plus makan di pantai, habis itu berenang “how beautiful life !!!!!!!!!!!!”