Bintang tak selamanya berkelap kelip
September 12, 2008 by windyahertanti
*****
Bintang merapatkan bantal di telinga nya. Berharap helai demi helai bulu kapuk itu bisa mengisi gendang telinganya dan menghadang masuknya suara Bunda yang terisak dan suara Ayah yang mengelegar.
Bintang semakin merapatkan badannya. Hingga dagunya bisa menyentuh ujung lututnya Badannya yang kecil tak lebih dari sebesar setengah isi karung goni beras.
Disudut mata Bintang mulai meneteskan airmata.Bintang tak berani menghapusnya, menghapus air mata itu hanya akan melepaskan pegangan bantalnya, Bintang memilih untuk membiarkan air mata itu bercampur dengan ingusnya daripada harus mendengar isak Bunda.
Bintang sebenarnya mulai lelah, mendengar isak Bunda dan teriakan Ayah. Tapi apa lacur, Bintang hanyalah bintang yang kecil.
*****
“Bintang?”
Sentuhan lembut di bahu Bintang membangunkan Bintang dari mimpinya. Mimpi nya menaiki kereta api hingga ke bulan. Bintang belum pernah naik kereta api,dan Bintang tak berani meminta ke Ayah Bundanya lagi. Dulu sewaktu Bintang meminta Bunda untuk naik kereta api, malamnya Bintang mendengar teriakan Ayah dan isakan Bunda.
“ Bintang…”
Suara itu lembut. Lebih lembut dari suara Bunda. Suara Bunda berat, Bintang tak tahu kenapa bisa seperti itu.
“ Bintang, kenapa tidur di kelas ? “
Bu Guru Rana menyapu poni rambut Bintang.
“ maap Bu …”
Bintang mengucek matanya. Silau matahari seakan tak bersahabat. Bintang lebih suka malam yang gelap dan menentramkan hati.
“ Bintang cuci muka dulu saja ya..”
Bintang berjalan perlahan keluar dari kelas untuk mencuci muka. Disetiap langkap Bintang, bisik dan cemooh teman teman sekelas Bintang mengikuti, menimbulkan suara berdengung seperti tawon. Bahkan untuk anak kelas 1 SD pun sudah tau arti bergunjing. Bintang merasa seperti malam yang disinari paksa.
*****
“ Bintang ada masalah dengan Bunda?”
Jam sekolah sudah berakhir. Namun Bintang masih tertahan di sekolah. Bukan karena Ayah belum menjemput, tapi karena Bu Guru Rana hanya ingin berdua berbicara dengan Bintang. Suara tawon dari teman teman Bintang sudah tak ada, yang ada hanya suara degub jantung Bintang dan suara ketukan jemari Bu Guru Rana di meja.
Jari jari Bu Guru lentik. Putih, terawat dan wangi, beda dengan jemari Bunda yang kasar dan berbau bumbu dapur.
“ Bintang kalo ada masalah bicara saja dengan Ibu..”
Suara Bu Guru Rana, seperti malam yang meninabobokan bintang, Bintang terlena di dalamnya. Rengkuhan dari Bu Guru Rana semakin membuat Bintang tengelam. Bintang semakin nyaman.
“ Ibu sayang Bintang kog…Bintang ga usah sungkan sama Ibu ya..”
Bintang memandang Bu Guru Rana, wajahnya yang cantik memabukkan Bintang. Seperti malam yang meniadakan bintang, Bintang terus terhanyut dalam belai Bu Guru Rana.
*****
Bunda mengelus poni Bintang dan memberikan kecupan malam kepada Bintang. Tangan Bunda terasa kasar, bau kunyit masih jelas tercium.
“ jadilah bintang yang terus berkelap kelip di malam hari ya sayang…”
Bintang hanya diam saat Bunda berkata. Mata Bintang tak mau memandang Bunda. Bintang sudah tahu kalo Bunda tak cantik, untuk apa dipandang lagi. Muka Bunda kusut, keriput mulai tampak di ujung matanya. Bajunya daster yang kumal, beda dengan Bu Guru Rana. Bintang mulai membandingkan Bunda dan Bu Guru Rana. Bagi Bintang Bunda mulai menjadi matahari. object yang ingin dihindari.
“Bintang..”
Seperti matahari yang memberikan sinar pada para bintang bintangnya, Bunda merasa Bintang menolak sinarnya.
“ Bintang sudah ngantuk? Bunda nyanyikan bintang kecil ya..”
Dan mulailah serangkaian nada terdengar, suara Bunda seperti tabuhan selamat pagi dari matahari. Menghentak hentak keras bersemangat di malam hari.
“ udah Bunda ! Bintang mo bobo !”
Dan Bintang menarik selimutnya melewati kepalanya. Membentengi dirinya dengan aura kegelapan. Bintang lebih suka malam.
Bunda terhenyak dipinggir ranjang Bintang. Kaget bahwa bintangnya telah menolaknya, matahari itu pun menjadi redup. Semangatnya untuk kembali memberikan sinar pada Bintang pupus sudah.
Seperti prajurit yang kalah perang, lunglai Bunda keluar dari kamar Bintang. Kembali terisak di peraduannya, mengadu pada sang Khalik. Namun Bunda sadar akan waktunya. Waktunya sang matahari mengalah mundur pada sang malam menyerahkan bintang.
*****
Bintang mengandeng Bu Guru Rana di tangan kanannya dan Ayah di tangan kirinya. Mimpi Bintang menjadi kenyataan. Bersama Bu Guru Rana dan Ayah akhirnya Bintang naik kereta api. Seperti yang dulu Bintang minta pada Bunda. Bintang ingin pergi naik kereta api bersama Ayah dan Bu Guru Rana.
*****