Selamat Pagi, Princess..
July 23, 2008 by windyahertanti
*****
Udara masih terasa dingin. Masih ada sisa sisa embun tadi
pagi. Nunik merapatkan jaketnya. Jarang jarang Jakarta bisa membuat nya menggigil. Langkah kaki Nunik mulai melambat,
matanya mulai mencari. Di ujung jalan, ada pangkalan ojeg. Beberapa pemuda dan
bapak bapak tampak berkumpul menunggu penumpang, ada juga para pengamen jalanan
yang sedang menyetel suara gitar mereka sebelum nantinya konser di bus dan
angkot.
“ selamat pagi , princess… “
Sapaan khas untuk Nunik. Nunik hanya semakin merapatkan
jaketnya dan berderap cepat. Wajahnya yang ayu tak sanggup memandang sang
penyapa. Malu jika sang penyapa melihat betapa merah mukanya.
“ hari ini kog telat ? “
Nunik tak menjawab, langkahnya
hanya di percepat berusaha tak mengubris sang penyapa. Di ujung jalan, Nunik mulai
menunggu bis yang akan membawanya ke tempatnya mengajar di SMP 5. Sayup,lagu
menjaga hati dari Yovie nuno terlantunkan. Dan Nunik tak sanggup lagi menahan
senyum di wajahnya. Dia tau lagu itu untuknya.
*****
Entah semenjak kapan, Nunik tak
tahu. Sepanjang yang dia ingat sapaan pagi itu sudah menjadi sebuah rutinitas
yang di tunggu. Awalnya, gara gara Nunik dipindah untuk mengajar di SMP 5 yang
mengharuskannya untuk naik bis yang melewati pangkalan ojeg itu. rupanya
rutinitas Nunik untuk melewati daerah itu, menarik perhatian para penghuni
pangkalan ojeg. Terutama sang penyapa.
Biar orang tua Nunik selalu mewanti wantinya untuk berhati hati. Entah
mengapa, Nunik tak pernah merasa takut. Awalnya, waktu sang penyapa yang oleh
para penghuni pangkalan ojeg itu dipanggil dengan sebutan Fendi, Nunik merasa
risih, tapi perlakuan Fendi yang sopan, tanpa pernah berusaha menyentuh Nunik
ataupun memaksa Nunik memberi recehan padanya, lambat laun membuat Nunik merasa
nyaman dan menikmati semua sapaan Fendi.
“ gambar siapa Bu ?”
Kaget, Nunik langsung menutupi
sketsa gambar di bukunya
“ gambar pacarnya ya ? “
Lagi, pak Darma bertanya dengan
nada mengoda.
“ bukan kog pak “
“ ah, masa ? ngambarnya kog pake
acara serius banget. Ampe ampe dipanggil aja ga denger ..”
“ engga kog pak..”
Nunik berusaha memberi
penjelasan yang sebenarnya tidak perlu. Raut wajah Nunik yang putih contrast
dengan semburat pink karena malu.
“ ah, itu mukanya merah
banget..hayooo, kalo bukan gambar pacarnya trus gambar siapa ? “
“ udah pak Darma, bu Nunik
jangan digoda. Nanti malu..”
Sahutan Bu Maria bukannya malah
menenangkan suasana, justru malah membuat suasana ruang guru di SMP 5 malah bertambah ramai untuk menggoda Nunik.
Nunik seperti biasa,lari karena malu dan membawa buku yang berisi sketsa gambar
Fendi.
*****
“ selamat pagi, princess “
Fendi yang khas pengamen jalanan
dengan rambut gondrong, kurus dan tato buatan di kanan kiri lengannya. Tawanya
lebar dan ramah contrast dengan perawakannya yang preman,jujur kalo dilihat
lihat mirip dengan Bimbim SLANK.
“ hari ini cantik sekali “
“ baru potong rambut ya ?”
Nunik hanya tersenyum tipis.
Hati Nunik berbunga bunga dengan pujian dari Fendi. Jikalau Fendi tahu, bahwa
Nunik khusus memotong rambutnya hanya karena ingin tampil menarik di mata
Fendi, pastilah Fendi yang akan berbunga bunga.
“ kau cantik hari ini dan aku
suka…… kau lain sekali dan aku suka… “ petikan gitar Fendi menemani Nunik
hingga naik ke bis. Senyum Nunik terus berkembang hari itu.
Suara Fendi sebenarnya tidak
bagus bagus amat, tapi bagi Nunik, Fendi telah mengalunkan lagu surga.
*****
Mata bulat Nunik mulai mencari.
Hatinya entah mengapa terasa sakit saat mengetahui apa yang dicari tak juga
hadir.
“ mba, mo naik ga?”
Kondektur bis mulai tak sabar,
Nunik masih juga ragu untuk menaiki. Fendi tak muncul untuk mengantarnya dengan
lagu and sapaan khasnya.
“ mba, jadi ga ?”
Akhirnya dengan berat hati,
Nunik menaiki bis itu.Fendi tak juga datang, padahal waktu mengajar sudah
dekat. Entah dimana Fendi, Nunik mulai bertanya Tanya. Belum pernah Fendi absen
menyapa, bahkan dalam hujan yang deras pun Fendi mau berbasah basah untuk
mengantarkan Nunik.
Pikiran pikiran negative mulai
menghampiri Nunik. apakah Fendi sakit ? ataukah dia telah bertemu dengan seseoarang
dan melupakannya ? dan tanpa sadar, air mata Nunik mengalir.
*****
“ ayo dimakan ?”
Sentuhan lembut Ibu, menyadarkan
Nunik. Nunik hanya memandang makanan yang disiapkan Ibu.
“ ga selera Bu “
“ kog ga selera ? nanti sakit
loh kalo ga mo makan..”
Sudah 1 minggu ini Nunik malas
makan, dunia tanpa adanya Fendi membuat hidup Nunik menjadi kembali abu abu.
Semenjak Nunik ditinggal oleh tunangannya 3 tahun yang lalu karena kecelakaan,
Nunik menutup diri pada yang namanya lelaki.
Nunik telah bertanya pada para
tukang ojeg di pangkalan. Jawabannya membuat hancur hati Nunik seketika. Gara
gara adanya larangan pemda untuk memberikan uang pada para pengemis, membuat
Fendi tak bisa mencari makan, dan itu membuatnya harus mencari tempat baru
untuk mengais uang. Hati Nunik seakan tercabik, menjadi seorang yang ditinggal
itu sakit.
Sentuhan tangan ibu,kembali
menyadarkan Nunik.
“ siapa tho ndok..?”
Biar Nunik tinggal di Jakarta
semenjak lahir, namun orang tuanya asli solo hingga bahasa jawa kadang
dipergunakan di rumah itu.
“ siapa apa Bu ? “
“ orang yang kamu pikirkan ?”
“ Nun ga mikir siapa siapa kog “
Nunik memalingkan wajahnya,
takut Ibu bisa mengetahui kegulauannya.
“ yo wes, kalo ga mo cerita juga
ga papa… tapi kalo pengen cerita, ibu ada di kamar sebelah ya “
Dan Ibu meninggalkan Nunik
sendiri tengelam dengan pikirannya.
*****
“ selamat pagi, princess “
Nunik langsung terlonjak kaget
oleh sapaan khas dari Fendi yang sudah 2 bulan ini menghilang. Tiba tiba saja
Fendi ada dibelakang Nunik yang sedang menunggu bis.
“ princess, tetap saja cantik “
Tawa Fendi masih sama seperti
yang dulu. Perawakannya tak ada yang berubah. Masih seperti terakhir Nunik melihatnya.Fendi
mulai menyetel gitarnya dan mulai memainkan nada.
“ kamu kemana saja?”
Fendi menghentikan petikan
gitarnya. Kaget oleh suara Nunik. selama ini Nunik tak pernah membalas
sapaannya. Paling hanya senyuman tipis.
“ aku pulang kampung, gara gara
larangan pemda, jadi ga bisa ngamen. Jadi yaa..mending bantu orang tua di
kampung , sekarang katanya teman sudah bisa ngamen lagi di jakarta. Jadi ya
balik lagi“
Fendi menjawab tanpa beban, jarinya mulai
bermain nada lagi
“ jangan pergi lagi….”
Fendi kaget
“ jangan pergi..jangan tinggalin
aku…”
Nunik tak mampu menahan air
matanya. Fendi langsung merasa tidak enak. Beberapa orang yang juga sedang
menunggu bis tampak mulai berbisik bisik.
“ princess, kog nangis..?”
“ jangan pergi..jangan
pergi……..”
Nunik menutup wajahnya dengan
kedua tangannya. Malu dengan air mata yang mengalir. Kata kata jangan pergi
terus diulang ulang oleh Nunik.
“ princess, aku ga akan pergi“
Fendi meraih tangan Nunik,
menggenggamnya erat
“Setiap pagi aku akan menyapa
dan menyanyikan lagu untukmu, tapi aku ini hanya pengamen jalanan, sd saja tak
lulus, hidup dari receh orang,…ga pantas bersama dengan orang terpelajar
sepertimu “
Nunik semakin tersedu mendengar
perkataan Fendi. Sisi rasionalnya, mengetahui bahwa apa yang dikatakan Fendi
benar adanya.
“ bis mu sudah datang,
pergilah..”
Dan Fendi mulai mengalunkan lagu
memiliki kehilangan dari letto…
*****
Jika mencintai adalah anugrah,
maka tak ada yang salah pada
siapa engkau jatuhkan cinta…