jendral gaji kopral kopral gaji jendral ?
October 26, 2007 by windyahertanti
hari ini ada seorang teman lama mengirim email, sekedar bertukar kata hingga sampai pada basa basi kerjaan. teman saya ini sudah 3 tahun bekerja di perusahaannya, dan sangat loyal terhadap perusahaannya. bayangkan saja, sabtu minggu saja masih bekerja atau kadang malam hingga jam 11juga. bahkan kemarin saat lebaran hari ke2 saja sudah masuk kantor. aduh…kalau saya yang menjalaninya, mungkin saya sudah hengkang dari dulu ![]()
tapi teman saya ini hebat, dia punya prinsip yang diyakininya apa yang dia beri nanti pasti akan didapat kembali. seperti karma. tapi teman saya menerapkannya dalam kehidupan kerja. maka diapun rela berlembur lembur ria demi mendapatkan balasan yang setimpal. satu hal yang juga teman saya terapkan adalah untuk menikmati pekerjaan. jadi biar teman saya hari sabtu minggu masuk kantor, dia tetap enjoy aja. tho akhirnya teman saya dalam kurun waktu 3 tahun sudah mampu menduduki jabatan manager seperti yang diidam idamkan. mungkin bagi dia hal itu sudah sepandan dengan apa yang dia berikan. salut untuknya.
terlepas dari teman saya sudah menduduki jabatan, tho teman saya masih beranggapan bahwa mungkin gaji yang diterimanya masih kalah dengan beberapa teman saya yang masih bertitle staff. dia sendiri mengasumsikan dirinya sebagai jendral dengan gaji kopral. saya tidak tahu teman saya bercanda atau tidak. well, salary is the confidential issue ;p. tapi jika ditilik lebih jauh, perkataan jendral dengan gaji kopral, sudah sering saya dengar. adalagi kopral dengan gaji jendral. mungkin fenomena ini banyak terjadi di lingkungan kita. dalam artian status bisa tinggi tapi gaji biasa biasa saja. atau gaji tinggi tapi tidak punya status. untuk mencapai posisi ideal jendral gaji jendral itu cukup sulit. tidak semua perusahaan bisa memberikan hal seperti itu. jikalau ada, pastinya perusahaan ini akan manjadi incaran para pencari kerja. hingga tingkat persaingan semakin tinggi. dan untuk mencapainya menjadi susah.
perusahaan yang banyak disekitar kita, rata rata memberikan option sebagai jendral gaji kopral atau kopral gaji jendral. semuanya ada untung dan ruginya. menurut analisa saya, industri jasa pastinya lebih berani memberikan status dari pada materi. dan perusahaan manufacture lebih berani memberikan materi ketimbang status. hal ini dilihat jika perusahaan jasa pastinya akan lebih membutuhkan tenaga kerja, profit yang diterima akan semakin sedikit dikarenakan harus dibagi ke tenaga kerjanya. untuk menarik tenaga kerja tetap bertahan, status menjadi iming iming. jika perusahaan manufacture, lebih banyak berbasis ke mesin, dimana tenaga kerja menjadi lebih sedikit dan share profit menjadi lebih besar untuk tenaga kerja, namun karena tenaga kerja sedikit, maka jenjang karirpun terbatas. ( but well, those still my opinion ;p )
lalu dikarenakan tiap orang memiliki prioritas masing masing, pandangan terhadap mana yang lebih baik menjadi subjectif. sekedar mengulas mata kuliah psikologi industri, saya pribadi menganggap kepuasan para tenaga kerja dilihat dari 3 factor utama. kepuasan akan pengalaman kerja, gaji, dan status. tiap orang berhak menentukan mana yang akan dicapai terlebih dahulu. wajarnya, untuk para pencari kerja akan mencari pengalaman terlebih dahulu, setelah merasa cukup dengan pengalaman kemudian akan mengejar gaji dan terakhir tentunya status. namun, dikarenakan dunia telah berubah, banyak sisi materialisme dan narsisme muncul prioritas orang pun banyak yang berubah sesuai jaman.
ada seorang teman, dikarenakan mengejar gaji. teman saya ini sudah tercatat 8 kali jadi kutu loncat. katanya yang penting gajinya bisa lebih besar. hasilnya pada saat perusahaan yang terakhir menutup agen di indonesia, teman saya dengan sukses ter-phk. pesangonnya 10 kali gaji! tapi sehabis itu teman saya binggung mencari kerja, saat mencari kerja tidak ada perusahaan yang berani memberikan gaji setinggi yang dia minta. fyi, perusahaan yang terakhir adalah perusahaan internasional yang terpaksa hengkang karena takut melihat iklim investasi di indonesia yang tidak stabil. egonya sebagai orang dengan gaji 8 angka nol, masih belum bisa menerima jika ditawari gaji yang lebih kecil. dan hasilnya, hingga kini teman saya sukses menjadi pengangguran.
kenalan saya yang lain, berstatus sebagai manager di sebuah CV. kerjaannya katanya sejibun, tapi dia tetap bangga sebagai tangan kanan sang pemilik perusahaan. pada saat CV itu hampir bangkrut, mau tidak mau teman saya ikut urun rembug uang untuk membayar hutang hutang kantor dari kantong pribadi. saya salut atas kesediaan kenalan saya itu.entah kebanggaan terhadap jabatannya yang dia pegang, atau memang dia seorang yang loyal. saya tidak tahu.
mana yang paling baik, sekali lagi kembali kepada tiap individu yang bersangkutan. saya sendiri tetap berharap saya bisa menemukan keidealan jendral gaji jendral. entah dimana perusahaan itu berada. saya masih terus mencari