green minded
October 31, 2007 by windyahertanti
kemarin saya mendapat bom atom. salah satu order saya yang harusnya akan di eksport ke german tanggal 9 nov, tenyata fail pada garment test pada item chlorinated organic carriers on print. maka hari ini pun kami langsung heboh untuk meeting dengan para supplier kami mencari tahu bagaimana ini bisa terjadi dan mencari solusi untuk menghadapi kemungkinan cancel order. fyi saja, chrorine dianggap sebagai salah satu zat yang berbahaya dikarenakan bisa menyebabkan kanker jika terkena kulit manusia dalam kurun waktu yang lama. tindakan pengadaan test pada setiap garment yang akan diekspor ke negara di german disebabkan adanya regulasi yang mengharuskan semua garment yang masuk ke negara Europe harus free for AZO and harmfull substance.
AZO ( Amino Azobenzene ) dan harmful substence ( bisa dijabarkan sebagai folmalyn, pvc, metals, chronium..dan bla bla bla ) dianggap membahayakan kesehatan manusia. oleh karena itu demi melindungi keselamatan umat di europe, maka semua semua garmen yang dijual di europe harus bebas dari semua zat berbahaya tesebut. hal ini tentunya karena tingkat pemahaman orang di europe akan kesehatan sangat tinggi, hingga hal seperti ini bisa menjadi hukum yang dipatuhi. buyer saya saat berkunjung, bercerita bahwa orang german saat akan membeli baju, sebelum mereka melihat style itu bagus atau tidak, mereka terlebih dahulu melihat brand tersebut sudah bisa dipercaya belum untuk menjual baju yang bebas dari segala macam zat berbahaya. pemahaman mereka akan kesehatan membuat saya salut.
di indonesia, saya contohnya. jika melihat baju yang luchu tanpa tedeng aling aling akan langsung saya beli. saya tidak perduli apakah saya membelinya di zara, executive tau bahkan di pasar kaki lima. bagi saya yang paling penting, style nya luchu kalau saya pakai dan harga sesuai budget saya. contohnya saat saya shooping di ITC, saya melihat baju luchu dengan print besar dibagian dada. saya tahu dan sadar bahwa mungkin print tersebut mengandung pvc yang bisa membahayakan tubuh saya. tapi tidak mungkin kan saya bertanya pada si penjual ” apakah baju ini AZO free atau tidak?” yang ada nantinya saya yang dilempar sendal jepit oleh sang penjual, mo beli baju harga 50rb saja kog nanya aneh aneh. harus diakui, pemahaman mengenai zat berbahaya di garment di indonesia belum ada, saya bilang belum dengan harapan suatu hari nanti akan ada. apalagi regulasi mengenai baju yang bebas dari zat berbahaya. pemakaian care label di garment saja masih jarang. apalagi mengharapkan adanya regulasi bebas zat berbahaya. mimpi kalee yee ;p
makanya saat kantor saya meminta kepada supplier supplier kami untuk menandatanggani perjanjian bahwa mereka berani menjamin product mereka azo free dan harmfull substance. banyak supplier kami yang mengajukan complain karena mereka harus siap menanggung claim ataupun cancel order jika saat di test garment mereka fail. banyak supplier kami yang menyerah. menurut saya pengibaran bendera putih ini dikarenakan para supplier saya masih belum paham akan arti pentingnya garment yang bebas dari zat berbahaya. masih banyak supplier saya yang ” nakal” mengunakan zat atau chemical yang tidal lolos uji demi memotong biaya. mereka lebih memikirkan keuntungan saat ini ketimbang investasi kesehatan dimasa depan. namun jika supplier tersebut mau berpikir lebih lanjut, jika europe saja sudah memberlakukan regulasi ini, bukan tidak mungkin usa juga akan mengikuti. nantinya seluruh dunia. hal ini pastinya dipicu oleh perkembangan akan orang orang yang sadar akan kesehatan di luar negeri yang begitu banyak.tekanan terhadap produk yang safty akan semakin banyak.
saya menjadi berpikir, kalau seperti ini terus saya juga nantinya karus hengkang dalam dunia per-garment-an. dalam artian jika sample garment fail saat di test di german dan pada akhirnya akan ada claim ke supplier. maka akan banyak supplier kami yang bangkrut. kebangrutan supplier saya akan menjadi tanda tanda saya juga akan berakhir menjadi pekerja di garment agent. bukan hanya kebangkrutan, tapi nama baik juga menjadi taruhannya. siapa sih yang mau bekerja sama dengan indonesia lagi jika hasil produk indonesia fail dalam test bebas zat berbahaya? saya katakan indonesia, karena supplier saya tersebar dari jakarta hingga bali. saya tidak tahu berapa persen perekonomian indonesia yang bergantung pada sektor garment. yang jelas pasti banyak. tapi jika adidas saja berani hengkang dari indonesia, bukan tidak mungkin suatu hari nanti s.oliver juga akan meninggalkan indonesia.
saya mungkin berpikir terlalu jauh untuk berpikir ke arah negatif. mungkin justru malah dengan seiringnya waktu, green minded akan juga mewabah di indonesia dan menumbuhkan tingkat kehati hatian dalam pengelolaan produk, garment terutama. maka tanpa menandatangani perjanjian seluruh supplier saya akan sadar diri dan menjaga quality mereka. dan saya bisa tidur dengan nyenyak, saat garment garment saya berlayar ke europe….