~Sebuah Awal~
Di antara bongkahan es di kutub utara hiduplah seekor penguin kecil. Warnanya putih dan hitam. Karena pinguin ini mempunyai bercak berbentuk love di dadanya, makapinguin ini lalu dipanggil Love oleh teman temannya.
Love suka berlari dan berenang. Hobinya menangkap ikan, apalagi ikan yang kecil yang gesit gesit seperti ikan trout. Namun jika sudah mendapatkan ikan tersebut Love akhirnya akan melepaskannya kembali. Love hanya akan memakan ikan yang sudah cukup besar, ikan ikan kecil dibiarkannya untuk tumbuh dan berkembang biak, hingga populasi ikan tidak habis dimakan oleh para pinguin.
Hari itu Love juga akan berenang. Sinar mentari menyapa malu malu. Berapa teman teman Love berteriak memangil Love. Mereka sudah berada di dalam air, perburuan mengejar ikan akan segera dimulai, dan tak ramai rasanya jikalau tak ada Love di situ. Mendengar pangilan teman temannya Love pun datang. Bak seorang bintang, Love berjalan menuju teman2nya. Diujung bongkah es yang besar, Love mengoyang goyangkan pinggulnya sebelum bersiap terjun ke hamparan permadani air. Tepat sesaat sebelum Love melompat, ujung mata Love menemukannya. Benda bundar berwarna hijau. Love merasa heran.
” Benda apa itu “
Love belum pernah melihatnya. Karena Love adalah pinguin yang suka ingin tahu, Love berinisiatif untuk menyentuhnya. Saat ujung jari Love akan menyentuh benda itu, tiba tiba saja benda itu bergerak.
“Oowww…”
Love berteriak kaget, hingga terjungkal kebelakang.
” Apa itu ? “
Love bertanya dalam hati. Love merasa takut, belum pernah seumur hidup Love melihat benda seperti itu. Love terus memandang benda itu, rasa takut membuat Love ingin meninggalkan benda itu. Namun saat mata Love menangkap gerak pada benda itu lagi, Love akhirnya tak mampu menghalau rasa ingin tahunya, Love pun mendekat lagi.
” Apa sih ini ?”
Dengan takut takut Love menyentuh benda itu. Benda itu diam. Disentuh lagi. Masih diam.
” Ah, berarti tadi hanya perasaan Love saja kalau benda itu bergerak “
” Hahahahaha, Love bodoh. Masa sama benda begini aja takut “
Love mentertawakan dirinya sendiri akan ketakutannya. Namun tiba tiba saja, sebuah benda bulat hitam kecil muncul dari bagian samping benda hijau itu.
” AAAAAAAHHHHHHHHH”
Love kembali terjungkal, untuk kali ini Love langsung berdiri dan berlari terjun ke laut. Jantung Love berdegup kencang, lebih kencang dari debur ombak angin malam saat melihat benda tersebut.
Byuuur
” Love ada apa ? “
Teman2 Love mengerubungi Love. Mereka tadi mendengar teriakan Love dan merasa khawatir.
” Huuu..huuuu, ada benda aneh disana”
Love mulai mengadu.
” Benda apa Love ?”
” Ga tauu….”
” Huu..huuuu…”
” Ayo kita kesana melihatnya “
Boo, kepala suku pinguin berinisiatif unuk melihat benda aneh yang membuat heboh. Dengan ditemani oleh oleh beberapa pinguin dewasa, Boo memimpin rombongan. Love tetap mengikuti dibelakang rombongan. Love tetap penasaran ingin tahu.
” Itu..! itu benda aneh ituu “
Love dengan semangat menunjuk sebuah benda kehijauan. Benda itu tampak contrast di antara hamparan es yang putih.
” Love, kamu jangan dekat dekat “
” Tapiii….”
Beberapa pinguin dewasa mengerubungin benda aneh itu. Soka, pinguin yang paling kekar di suku pinguin mencoba untuk menyentuh benda itu. Perlahan Soka menyentuhnya, Pelan, benda itu masih diam. Agak keras, benda itu masih diam, Hingga akhirnya Soka menyentak benda itu keras, dan benda itu pun terlontar ke udara.
” Ahhhh, hati hati “
Love berlari mencoba menangkap benda itu. Walaupun tak tau benda itu apa, Love hanya merasa tak rela jika benda itu hancur.
” Huuups “
Benda itu dengan sukses mendarat di dada Love. Love memeluknya dengan kedua tanganya
” I got it..”
Teriak Love. Love berhasil mendapatkan benda itu. Teman teman Love riuh bertepuk tangan.
” It’s save with me…”
Love tersenyum bangga. Perlahan lahan muncul bulatan di samping benda itu. Jantung Love seakan berhenti berdetak. Lalu muncullah dua pasang mata di bulatan itu. Mata paling indah yang pernah dilihat Love. Love terpaku…
” You save with me….”
Dan sebuah garis di bulatan hitam kecil itu muncul membentuk sebuah garis senyuman.
” And Love will take care for you….”
~Sebuah Perjalanan~
” Mii….ayoo kemari Miii “
Love berteriak kencang. Mii berjalan perlahan. Wajar, sebagai kura kura Mii memiliki keterbatasan dalam berjalan. Mii tersenyum melihat Love begitu semangat berlari dan langsung saja Love menceburkan dirinya di air, 5 detik kemudian Love muncul lagi di permukaan air, kali ini dengan seekor ikan di mulutnya.
” Ini buat Mii “
Love meletakkan ikan itu di depan Mii.
” Makasih Love “
Love hanya tersenyum dan kembali kepada air. Hingga mentari menyentuh garis horison, Mii setia menunggui Love. Mii mengingat masa masa pertemuan pertamanya dengan Love. Saat seekor burung elang menangkap dan membawa Mii, jauh melintasi lautan. Hingga saat sang elang menjatuhkan Mii di depan Love. Garisan takdir memang susah dimengerti, membawa Mii kejauh ke hariban Love.
” Ayo kita pulang Mii…”
Love mengangkat Mii dalam peluknya dan mulai berjalan pulang. Kebersamaan antara Love dan Mii sudah diketahui semua penguin disitu. Di mana ada Love pasti ada Mii. Dinginnya kutub utara tak membuat Mii membeku, karena Love selalu ada disamping Mii untuk menghangatkan.
Hari hari berlalu, entah berapa ribu kali mentari muncul dan tengelam, namun bagi Love dan Mii, waktu bukanlah masalah mereka. Yang mereka tahu hanya mereka selalu bersama, terus dan terus.
Dan hari itu, sama seperti hari pertama kali Love bertemu Mii. Mentari malu malu. Riuh suara teman teman Love yang sedang berburu ikan. Mii berada di ujung bongkah es, dan entah mengapa memandang jauh.
“ Apa yang sedang Mii pikirkan ? “
“ Mii ga memikirkan apa apa kog Love..”
“ Boong …”
Love kemudian mengambil tempat disamping Mii. Ikan yang tadi ditangkap Love diletakkan di depan Mii.
“ Itu buat Mii “
“ Love terlalu baik ama Mii “
Love tersipu malu oleh pujian Mii.
“ Mii ga bisa mbalas kebaikan Love…”
“ Love ga minta dibalas kog, Love cuman ingin Mii bahagia disini …”
“ Mii bahagia, Mii bahagia banget kog..”
Mii menyadarkan kepalanya di ujung jari Love. Perlahan Love menyentuh Mii. Pelan, penuh makna. Namun Love tersadar akan sesuatu.
“ Mii kangen pulang ya…?”
Mii hanya memandang Love. Dan Love tau apa itu artinya.
Hingga di detik terakhir mentari tak berwarna lagi, Love dan Mii tetap di ujung bongkah es itu.
“ Kalo Mii ingin pulang, Love akan mengantarkan Mii pulang….”
Maka hari itu pun tiba, hari yang sama seperti hari hari yang lalu, dengan cuaca yang sama. Hal yang membedakan hari itu hanya di hari itu seluruh suku pinguin berkumpul di ujung bongkah es. Bersiap mengantarkan kepergian Love dan Mii.
“ Daaah Boo…”
“ Mii akan merindukan kalian semua “
“ Love, hati hatilah kalian..di laut banyak ikan ikan buas yang siap memangsa kalian”
Boo memberikan banyak wejangan kepada Love dan Mii. Berat bagi Boo melepaskan Love pergi. Namun kekeraskepalaan Love mengalahkan semua logika yang diberikan oleh Boo. Love tetap akan mengantarkan Mii pulang. Ke pulau yang entah ada dimana. Pulau yang memiliki butir butir pasir seperti yang diceritakan Mii. Yang mana mentarinya bersinar terang dan menghangatkan. Pulau yang mempunyai semilir bunyi kemerisik daun. Pulau yang penuh dengan warna, yang bukan hanya putih….Pulau yang dirindukan Mii.
“ Love dan Mii akan berhati hati, Boo. Jangan khawatirkan kami “
Love memeluk Mii di lengannya, dan perlahan teman teman Love membantu mendorong bongkah es ke arah laut lepas.
Sebuah perjalanan telah dimulai. Hanya berdua. Hanya ada Love dan Mii.
“ Mii ga takut kan ?”
“ Mii ga akan takut selama ada Love disini “
Dengan yakin Mii menjawab Love. Dia tau dia akan aman selama ada Love disampingnya. Jawaban Mii membuat Love tersenyum.
“ Love akan selalu ada disini bersama Mii…”
Hari hari di bongkah es kecil milik Love dan Mii terus berlanjut. Bongkah es itu perlahan mulai mengkerut. Semakin jauh perjalanan mereka menuju pulau Mii, sengatan mentari semakin terasa. Love dan Mii tak tau arti global warming, yang mereka yakini bahwa pulau Mii semakin dekat dan mendekat.
“Mii, tunggulah disini. Love akan menyelam mencari ikan”
“ Baiklah, hati hati ya Love…”
“ Mii jangan khawatir, Love pasti akan kembali “
Byur
Love mulai menyelam. Di tengah lautan dalam, ikan semakin jarang dicari. Love bahkan tak bisa mengukur kedalaman laut. Yang Love sadari laut menghitam, hingga tak terlihat dasarnya. Ikan ikan pun tar terlihat. Semuanya gelap. Love tetap berenang. Love harus tetap berusaha, biar bagaimanapun Mii harus makan.
Love berenang semakin jauh. Tangan kaki Love sebenarnya sudah kelelahan, tapi seekor ikan pun belum ditemukan Love. Dalam, laut semakin dalam dijelajahi Love. Hingga Love akhirnya Love menemukannya. Sekumpulan ikan tengah berenang, Love tak tau ikan apa itu. yang penting bagi Love ikan itu adalah makanannya dan Mii.
Love berenang lagi dengan semangat yang terpompa. Love mulai mengejar ikan itu. Ikan ikan itu lari kocar kacir melihat Love. Mereka juga berusaha menyelamatkan diri. Love merasa seperti waktu dia bermain dengan teman temannya di bongkahan es. Love terus mengejar ikan ikan itu. Satu ikan di dapatnya. Hup. Ikan itu masuk perut Love.Hup, satu lagi di dapat Love. Di pegangnya ikan itu untuk Mii. Lagi, Love mengejar ikan, Love masih lapar. Paling tidak satu ikan lagi untuk Love, dan satu lagi untuk Mii. Hup. Satu lagi masuk perut Love. Tinggal mencari satu lagi untuk Mii. Love sudah membayangkan Mii pasti akan sangat senang. Love mengejar lagi, hingga….
Love membeku. Di depan mata Love muncul sesosok makhluk air. Entah dari mana datang makhluk ini. Matanya dingin, badannya 10 kali lebih besar dari Love. Apakah ini yang disebut sebagai Hiu putih? Love tak tau. Yang jelas makhluk itu memandang Love. Love takut. Lebih takut saat Love menemukan Mii. Tanpa sadar ikan untuk Mii terlepas. Bahkan ikan ikan kecil pun sudah menghilang. Love mulai berenang mundur. Instingnya berkata lari…larilah Love!
“haaauuuuuummmmmmmmm”
Makhluk itu membuka mulutnya. Mempertontonkan taring taring kecil yang banyak mengitari mulutnya. Air laut seakan berubah menjadi pusaran saat makhluk itu membuka mulut hingga seakan bisa menelan apa saja yang ada di depannya. Tanpa perlu dikomando 2 kali, Love berenang cepat, berusaha lari dari makhluk yang mengerikan itu.
Love berusaha berenang cepat. Namun rasanya makluk itu tetap lebih cepat. Makhluk itu seakan ingin bermain. Dia bisa saja langsung melahap Love saat itu juga, namun dia malah membiarkan Love berenang melarikan diri. Mungkin dia ingin membuat Love sangat sangat kelelahan dulu sebelum akhirnya memakan Love.
Love merasa ajalnya mendekat. Love ingin menyerah kalah. Kaki tangan Love seakan layu, tak sanggup mendorong tubuh Love laju ke depan lagi.Tubuh Love mulai melayang. Makhluk itu menyeringai bahagia. Dia besiap menerima Love sebagai santapannya.
“ Mii, maapkan Love…”
Love mulai pasrah. Meminta maap karena tak mampu memenuhi janjinya pada Mii. Janji untuk mengantarkan Mii ke pulau Mii dan selamanya menemani Mii. Love menutup matanya. Membayangkan Mii. Senyum Mii. Mata lembut Mii. Semua moment bersama Mii seakan menjadi film yang di putar ulang di pikiran Love. Hingga Love tersadar.
Love tak mau mati tanpa Mii di samping Love. Love ingin bertemu Mii. Selamanya ingin bersama Mii. Love harus hidup bila ingin bersama Mii. Hingga entah darimana kekuatan Love. Love tersadar bahwa Love harus berenang dan berenang terus. Maka Love pun berenang cepat…cepat…Love tak melihat kebelakang, tak mau melihat makhluk itu, Love terus mengayuh tubuhnya. Berenang dan berenang terus. Karang di depan Love tak Love perdulikan. Love terus menerjang karang itu. Love merasa tubuhnya tersayat karang. Darah.
“ Haaauummmmmmmmmmm”
Love mendengar makhluk itu bersuara. Mungkin makluk itu terhalang oleh karang hingga tak bisa mengejar Love. Atau malah makhluk itu juga terluka parah seperti Love. Love tak mau tau. Love hanya mau terus berenang dan berenang. Luka di tubuh Love semakin perih, Love tak perduli. Love hanya ingin bertemu Mii. Jika Love harus mati, Mii harus disamping Love.
Love terus berenang, hingga sampai ke permukaan laut. Tampak titik putih dikejauhan. Mii.
“ Love !!! apa yang terjadi ? “
Mii menjerit histeris melihat Love kembali dengan keadaan berdarah darah.
“ Maap Mii, Love ga bawa ikan untuk Mii…”
“ Huuu…huuu…Love, kenapa seperti ini? Kalo seperti ini mending Mii ga makan. Mending Mii cari makan sendiri. Huu..huuu…kenapa Love harus berkorban seperti ini…?”
Mii menangis. Menyesal mengijinkan Love begitu baik kepadanya.
“ Gapapa Mii. Love gapapa. Mii jangan sedih. Love gapapa kog “
Love mencoba membujuk Mii. Tapi terlanjur, Mii telah merasa bersalah, membiarkan Love berkorban untuknya.
“Love, why you do this ?”
“Love hanya ingin membahagiakan Mii..”
“ Tapi kan bukan berarti Love harus mengorbankan diri sendirikan ?”
“This is not scarified, this is willingness Mii“
Love tersenyum, dan mulai menjilati luka lukanya. Berharap luka itu sembuh oleh waktu, namun membekaskan sebuah bukti. Tentang perjuangan Love untuk Mii.
Bongkah es itu akhirnya habis. Luruh oleh pemanasan global. Kini sebatang kayu yang hanyut ditengah lautan menjadi penyangga hidup Love dan Mii. Kayu itu kecil, maka hanya Mii yang berada di atas kayu itu, sedangkan Love tetap mengayuh tubuhnya di samping kayu itu. Sesekali Love bersandar di kayu itu, namun hanya sebentar karena Love tak ingin menghancurkan kayu itu. Jika kayu itu hancur, Love tak bisa berpikir bagaimana nanti dengan Mii.
“Love cape ?”
“ Engga kog “
Love berbohong, kaki tangan Love sebenarnya sudah kaku.
“ Bener ?”
Mii mencari pembenaran kata kata Love di mata Love. Namun Love terus tersenyum.
“ Love gapapa kog. Kan Love kuat “
“ Maap Love, gara gara Mii. Love jadi menderita seperti ini. Mii terlalu egois memaksakan Love mengantarkan Mii ke pulau Mii”
“ Mii ga perlu minta maap, kan Love yang ingin mengantarkan Mii pulang. Tenang aja. Sebentar lagi kita pasti menemukan pulau Mii. Mii yang sabar yaa..”
Kata kata Love menenangkan hati Mii. Love memang yang selalu mengerti Mii.
Rintik. Di tengah laut itu tiba tiba saja langit menjatuhkan tetesan air. Love dan Mii memandang ke langit. Apakah ini sebuah cobaan lagi ? Mii memandang Love. Panik. Love memegang tangan Mii.
“ Tenang aja, we will be oke “
Rintik itu bertahan berhari hari. Ombak di lautan menari menggila. Angin berhembus begitu kencang hingga bisa saja menerbangkan tubuh Mii yang ringkih. Namun Love terus melindungi Mii, menahan angin dengan tubuhnya.
Rintik itu menjadi badai. Langit menghitam, sama dengan warna lautan. Tubuh Love dan Mii terombang ambing tak jelas. Kayu penahan hancur di awal badai. Hingga saat ini hanya ada tubuh Love menjadi penahan untuk Mii.
“ Love, kalo Mii mati disini. Mii mo bilang makasi ma Love…makasih for everything”
Love tidak mendengar kata kata Mii. Badai itu menghilangan kata itu. Love begitu berkonsentrasi untuk menahan tubuhnya supaya tak terbawa arus badai dan juga menjaga Mii supaya tak hilang ditelan ombak. Badai itu mengila. Lama sekali. Badai itu tak jua reda.
“ Mii, jangan menyerah. Kita pasti selamat “
Love terus membisikkan kata kata itu pada Mii. Di sisa sisa tenaga Love, Love tetap menyemangati Mii. Namun tenaga Love juga ada batasnya, badai itu mengalahkan semuanya. Dan tubuh Love mulai terhempas.
~Sebuah Akhir~
“ Love..”
“ Love…Love, sadarlah”
Love merasa ada sentuhan sentuhan pada tubuhnya. Sentuhan itu seperti setrum pada tubuh Love. Men-charge baterai hidup Love.
“ Love…bangunlah. Jangan tinggalkan Mii sendiri “
“ Mii”
Alam sadar Love teringat Mii. Love mulai membuka matanya perlahan. Silau. Sinar itu terlalu terang. Love mengerjapkan matanya berkali kali. Dan dalam kerjapan mata Love, sesosok yang selalu di impikan Love muncul. Mii !
“ Mii….”
Lirih, Love merasa aneh saat mendengar suaranya sendiri keluar.
“ Yaaa Love ! ini Mii“
Mii memeluk Love gembira
“ Love…Love..akhirnya Love sadar juga. Mii sudah khawatir sekali “
Love belum sepenuhnya sadar, bola mata Love mencari tau. Dimanakah mereka ? apakah ini surga ?
“ Akhirnya dia sadar juga “
Suara asing tiba tiba masuk di telinga Love.Love mencari tau dari mana asal suara itu. ah..itu dia. Seekor kura kura juga seperti Mii. Namun kura kura itu tampak lebih berumur dari Mii.
“ Kami sempat khawatir, karena Love sudah 7 kali melewati matahari tengelam”
“ Siapa kamu..?”
Love bertanya. Hatinya bingung, siapa kah kura kura itu?
“ Dimana ini?”
Love memandang sekeliling. Tempat yang diinjaknya berwarna putih. Love mengambil sejumput butir butir putih itu. Halus, pelan butir butir putih itu jatuh luruh dari tangan Love.
“ Itu pasir Love , pasir…seperti yang Mii ceritakan pada Love “
Mii sumringah disamping Love
“ Ini pulau Mii, Love….Love berhasil mengantarkan Mii pulang“
Mii memeluk Love, senyum Mii terkembang, matanya berbinar jauh lebih indah dari bintang utara.
“ Ini saudara Mii, itu juga teman teman Mii“
Lalu entah dari mana muncul sekumpulan Kura Kura disamping Love. Love hanya terpaku. Kaget. dia tak pernah menyangka ada begitu banyak kura kura.
“ Kita sampai ke pulau Mii..kita benar benar ada di pulau Mii ?”
Love bertanya tak percaya.
“Iya Love “
Senyum Mii menyakinkan Love, bahwa inilah pulau Mii. Tempat yang selalu dirindukan Mii. Perjalanan itu pun berakhir. Love bernafas lega. Perjuangannya berakhir, sekarang dia hanya perlu memetik hasil.
Love memandang sekeliling, semuanya persis seperti yang diceritakan Mii. Mentari hangat, butir pasir yang halus dan suara ngemerisik daun kelapa. Debur ombak yang menyapu kaki Love. Tempat ini indah, lebih indah dari bongkahan es Love. Terutama dengan ada Mii di samping Love. Membuat tempat ini menjadi sangat sangat indah. This is a paradise….
***oups, maap… saya belum menemukan happy end story in my life. so, the story still to be continue… ;p***
“ Love beristirahatlah dulu, kumpulkan tenaga lagi, sebelum nanti Love kembali pulang ke bongkahan es…”
“ Eh “
Love terpaku kaget oleh kata kata Mii.
“ Love pulang…?”
“ Iya, Love pasti akan pulang kan ke bongkahan es ? jadi nanti teman teman Mii akan membuatkan rakit dari dahan pohon untuk Love pulang ke bongkahan es “
Mii dengan semangat menunjuk sebuah tumpukan kayu, tampak beberapa Kura Kura mengumpulkan dan berusaha membuat rakit.
“ Sekarang, Love istirahat aja dulu sambil nunggu rakitnya selesai. Bentar lagi juga selesai kog, jadi Love bisa cepat pulang ke rumah Love. Love pasti kangen rumah ya ?”
Mii berceloteh riang. Seakan bahwa Mii mengetahui pasti bahwa Love memang ingin pulang ke bongkahan es. Love diam. Tak pernah dalam pikiran Love untuk pulang ke bongkahan es.
“ Mii…Mii ingin Love pulang…?”
Rasanya di tengorokan Love ada seekor ikan yang tersangkut. Kata kata menjadi sulit terucap. Mata Love menuntut tanya pada Mii. Benarkah Mii ingin Love pulang ?
“ Ehm.. karena Mii tau Love pasti ingin pulang jadi Mii mempersiapkan ini semua, Love jangan khawatir sebentar lagi rakitnya pasti akan selesai”
Entah mengapa jawaban dan mata Mii mengelak dari Love
“ Kalo Love pulang, Mii gimana ?”
Pertanyaan polos dari Love, namun mencurahkan seluruh perasaan Love saat itu.
“ Mii akan tinggal disini. Ini kan rumah Mii….”
Mii menjawab pelan. Hati Love hancur.
“ Love istirahat aja, makanlah dulu. Teman teman Mii sudah menyiapkan ikan buat Love makan..”
Perlahan Mii meninggalkan Love. Love diam tak bergerak, tak bersemangat lagi, pompa hidupnya mendadak berhenti mendengar jawaban Mii. Mii ingin Love pulang. Tapi Mii tak akan ikut Love pulang ke bongkahan es. Mii akan meninggalkan Love sendiri. Percuma apa yang telah Love lakukan untuk Mii, semua angan angan Love untuk terus selamanya bersama Mii pupus sudah. Mii ingin Love pulang. Entah mengapa kata kata itu mengantung di pikiran Love. Mii ingin Love pulang, Mii sudah tak menginginkan Love lagi…
Hari hari di Pulau Mii bukan lagi menjadi paradise buat Love. Love hanya memandang horison dengan hati kelam. Mii tak ada lagi disamping Love seperti dulu di bongkahan es. Mii sibuk dengan teman teman Mii. Udara yang hangat di pulau Mii seakan membakar tubuh Love. Love merasa tersisihkan dari hidup Mii.
“ Mii, apakah Mii bahagia disini ?”
Hari itu entah mengapa seperti hari pertama kali Love bertemu dengan Mii. Mentari malu malu, tak seperti biasanya di pulau Mii.
“ Bahagia dong, Mii senang sekali disini..”
Hari itu sengaja Love mengajak Mii mengobrol. Hal yang rasanya sudah lama sekali tak pernah Love dan Mii lakukan.
“ Apakah Mii benar ingin Love pulang ?”
“ Kan keluarga Love di sana, jadi Mii tak akan menghalangi Love untuk pulang…”
“ Kalo Love pulang, apa Mii ga akan merindukan Love ?”
“ Mii akan kangen, tapi Love kan akan bersama dengan keluarga Love. Itu lebih baik..”
“ Maksudnya ?”
“ Ga ada maksud apa apa Love, Mii hanya ingin Love bahagia juga. Seperti Mii bahagia disini bersama dengan keluarga dan teman teman Mii. Jadi kalo Love bahagia di bongkahan es, Mii juga akan bahagia “
“ Love sudah bahagia bersama Mii..”
“ Tapi bagaimana dengan keluarga Love ? rumah Love ? Love akan merindukannya suatu hari nanti. Dan itu akan membuat Love tak bahagia bersama Mii lagi…kalo Love tak bahagia, bagaimana Mii bisa bahagia”
Lama, Love dan Mii berpandangan. Mencoba saling mengetahui isi hati mereka masing masing. Namun entah apa yang ada diantara mereka, hingga hati itu mendadak tak lagi bertaut….
“ Ok, Love akan pulang. Kalo itu akan membuat Mii lebih bahagia.”
Dengan langkah gontai, Love pun berpaling pergi. Hatinya luluh lantak. Harapan Love untuk membuat Mii mengerti bahwa Love tak ingin pergi meninggalkan Mii sia sia. Perjuangannya selama ini serasa tar berarti. Mii tak pernah mengerti bahwa bahagia Love hanyalah Mii….
Hari itu mentari masih malu malu. Di ujung pasir putih, Love berdiri diatas rakitnya. Rakit yang dibuat oleh Mii untuk perjalanan pulang Love sendiri.
“ Hati hati ya Love…”
Love hanya diam. Bagi Love, perjalanan pulang ini adalah perjalanan yang tak pernah Love ingin lakukan. Apalah artinya berjalan sendiri tanpa Mii.
“ Jangan sampai bertemu Hiu lagi..”
Mii memeluk Love lama sekali. Sebuah pelukan yang sebenarnya tak ingin dilepas oleh Love.
“ Mii juga hati hati…Love akan merindukan Mii”
“ Mii juga akan merindukan Love…tapi keluarga Love juga merindukan Love sekarang”
Love ingin memprotes. Tidakkah Mii tau, bahwa semenjak pilihan untuk melakukan perjalanan ini, Love telah melepas keluarganya. Tidakkah Mii sadar bahwa Love telah memilih Mii daripada keluarga Love…? namun pandangan mata Mii seakan Mii tau yang terbaik buat Love membuat Love menyerah untuk memprotes. Baginya kebahagiaan Mii adalah yang utama. Membiarkan Mii hidup dengan pikirannya yang membuat Mii bahagia adalah pilihan Love. Meski pilihan itu harus membuang Love dari hidup Mii, Love rela.
“ Daaaah Loveeee”
Mii melambaikan tangannya, Love terus memandang Mii. Hingga saat rakit Love mulai berlaju. Angin perlahan membawa Love pergi.
“ Mii, mengapa Mii biarkan Love pulang ?”
Tiba tiba saja saudara Mii menyapa.
“ Karena Love akan lebih bahagia bersama keluarganya makanya Mii biarkan Love pergi “
“ Biarpun itu menyakitkan buat Mii?”
Mii memandang saudaranya. Mata Mii mulai berkaca kaca. Akting Mii berakhir sudah, topeng bahagia Mii mulai pecah.
“ Mii tak ingin Love pergi kan sebenarnya…?”
Mii diam, dua pertanyaan itu yang menyiksa hati Mii.
“Apalah artinya keinginan Mii, yang penting Love akan bahagia disana…”
“ Itukan menurut Mii, tapi belum tentu kan menurut Love ? “
Mii kembali diam oleh pertanyaan saudara Mii. Hati Mii mulai merasakan sakit. Mii sadar akan sesuatu.
“Mii, mengapa Mii tak jujur pada diri sendiri? Mengapa tak meminta Love untuk tinggal…itu kan yang sebenarnya Mii inginkan…”
“ Mii tak ingin Love mengorbankan hidupnya hanya demi Mii…”
“ Itu adalah pilihan Love. Biarkan Mii mengungkapkan keinginan Mii, dan nantinya Love memilih apa yang benar benar membuat Love bahagia…”
“ Jangan meminta Love untuk pergi, jika Mii tak menginginkannya. Itu hanya akan menyakiti Mii sendiri “
Angin mulai berhembus kencang. Tiupannya membawa kilasan masa masa Mii bersama Love. Mii pun mulai berlari…lubuk hati Mii yang terdalam tak ingin Love untuk pergi.
“ Looooovee…kembalilah….Lovee, jangan pergiiii….”
“ Loooveeee….jangan tinggalkan Mii…”
Ombak mulai menerpa. Angin dingin mulai berhembus.
Namun apalah arti teriakan seekor kura kura. Suara Mii jelas kalah oleh debur ombak. Dan Love terus melaju pergi dengan hatinya yang hancur…
Love, don’t you hear? Mii is calling for you….
~The end~
***Saya merindukannya, namun terlalu pengecut untuk mengatakannya……
***
Posted in Uncategorized | 2 Comments »